Aku duduk termenung di emperan rumah. Sore itu udara memang agak dingin ku putuskan untuk memakai jaket dan duduk di emperan rumah. Hari yang menyesakkan pikirku. Baru saja aku kecelakaan di pinggiran jalan batu aji ini. Entah apa yang ku pikirkan, tapi memang kondisiku lagi drop. Berulang kisah yang pernah kutuliskan dalam diary ku, aku selalu terbayang akan bundaku yang semakin hari kesehatanyan semakin drop. Aku kwatir aku belum siap untuk segalanya yang mungkin ada hal yang di luar dugaan. Aku pasrah saja pada Tuhan, toh semuanya telah digariskan pada kami semua. aku memang anak yang gampang sekali sedih, banyak kisah yang dalam kehidupan ku yang terlalu sulit bagiku, untuk apa Tuhan memberikan cobaan yang seberat ini. Entah bagaimana cara ku menyembunyikan kesedihan ini supaya tidak ada orang yang tau..
“Lho, kok kamu sedih trus sih bon..”! santa menegur ku tiba tiba kala itu aku duduk di perpustakaaan dengan buku yang ku ambil tapi tidak kubaca.
“Ia ni san,, tau sendiri lah hidup ini penuh drama”.
“Ia juga sih, tapi gk seharus nya masalah itu dibawa bawa ke kampus. Belajarlah profesional Lisbon, toh ada Tuhan tempat mu curhat. Tuhan itu adalah pendengar yang setia”.
“Ya memang, tapi kalau doa kita belum dikabulkan oleh Tuhan bagaimana coba? Kan gak mungkin kita berharap trus…”! Kata ku meyakinkan
“Kan ada saat nya itu lisbonnn..”
“Udah ah, bahas lain aja”. Katanya sambil berlalu
Aku melanjutkan penghayalanku, tak terasa jam nya sudah beranjak sore. Ah, waktunya pergi kerja ini . rasa malas ini kadang timbul ketika tiba waktunya kerja. Andai saja aku bisa menemukan tempat kerja yang cukup nyaman, pasti kegelisahaan ini berkurang sedikit. Namun begitu, aku tetap saja berangkat kerja.
“Kamu kok jam segini baru datang, lihat ni banyak orderan malam ini. Kamu harus selesaikan ini secepatnya solanya aku mau running mala mini n besok pagi udah harus di kirim”. kata leader production yang sudah dari tadi menunggu aku untuk segera menyiapkan barang yang dia request
Aku bergegas menyediakan, lagi lagi aku kena masalah.Kaki ku tersandung pisau forklift yang membuat ku harus istirahat beberapa jam. Padahal target belum juga selesai. Oh Tuhan, bagaimana ini. Aku harus menyelesaikan pekerjaan ku. Ini urgently request. Tolong pulihkan aku Tuhan, pintaku . Namun lagi lagi ejekan dri karyawan lain berdatangan. Ada yang bilang over style lah, ceroboh, sok pintar dan bahkan sok jagoan. Aneh, apa hubungan nya sok jagoan dengan kasus ini yah, pikirku dalam hati.
Pagi hari pun tiba, aku sudah merasakan agak sehat dan bisa kembali ke kampus nantinya. Pagi ini akan ada ujian akhir semester 6 TA 2013/2014. Aku harus mempersiapkan mental dan pikiran agar bisa lulus semuanya dan bisa mengambil mata kuliah skripsi semester depan. Wisuda tepat waktu adalah dambaan bagi ku dan tentunya bagi ayah dan bunda ku.
Aku tiba-tiba teringat akan draft sms yang kemarin dikirmkan oleh ibu ku beberapa hari yang lalu.
“nak, disampin kamu bekerja, kamu harus perhatikan juga sekolah mu. Semuanya harus seimbang dan bisa kamu cover dua duanya. Ingat ya nak, mama sudah sakit sakitan. Dan satu hal yang ingin kamu tahu, sakit ibu sudah 15 tahun, ibu berpikir akan bertahan hidup supaya bisa melihat kamu wisuda nantinya. Mama pasti bangga sekali jika mama dan papa bisa mendampingi kamu nantinya. Terus lah berjuang yah nak, mama mendoakn kamu supaya Tuhan senantiasa menlindungi dan memberkati tiap apa yang kamu kerjakan. Dari mama mu”
Aku berurai air mata kala membaca ulang draf sms mamaku. Oleh karena itu aku kuat, aku bekerja keras dan berusaha memberikan apa yang mereka inginkan termasuk di sisa umurnya ingin melihat aku wisuda kelak.
“Kamu kenapa lagi Lisbon, kok kamu nangis lagi di sini. Kamu aneh hamper tiap hari saja kulihat kamu termenung dan selalu sedih, padahal kamu kerja bukan seperti kami yang pengangguran ini”. Kata suara teman kost ku yang dari tadi memperhatikan aku menangis.
“Akhir, akhir ini memang sering aku sedih. Karena mamaku sakit keras dan keinginan terbesarnya selama hidup ini melihat ku wisuda segera. Padahal masih satu tahun lagi, aku kawatir ibuku takkan kuat lagi” , kata ku sambil mengghempaskan tubuh ku di kursi.
“Iya, wajar sajalah lah seperti itu. Karena dari 8 orang kalian sekeluarga Cuma kamu masih yang bisa kuliah, wajarkan ibuku bilang seperti itu”?
“Iya tapi”..?
“Tapi apa? Harus nya kamu bangga”…
“Kok bangga”?
“Ia yalah, kamu masih bisa kuliah walaupun kadang macet”.
“Semua orang berhak lah kuliah, bukan Cuma ku kan”. Tegas ku
“Iya, tapi hanya kamu yang beruntung. Makanya kamu harus bersyukur dan kelak semua harapan orang tua mu bisa kamu wujudkan. kan, gampang tinggal jalani aja”..
“Ah kamu bisa aja, karena bukan kamu saja yang diposisiku. Aku dilema bang jhon”
“Kok dilema”?
“Pokoknya posisiku sudah dilevel paling atas menurut tingkat kerumitan masalahnya.Yang jelas Cuma aku yang tahu masalah ku. Kamu doakan aku saja supaya bisa mengujudkan impian mama ku”. Kataku sambil berlalu
Hari pertama di bulan agustus 2015, aku berdoa semoga tidak ada masalah apapun termasuk malasah financial yang selama ini jadi malah yang paling utama. Dan semoga mamaku segera sembuh. Itulah sebaris harapan yang kutuliskan di twitter ku.. banyak juga yang nge-retweet status twitterku kali ini. Seperti biasa aku menjalani hari hariku yang kebanyakan di tempat kerja. Ada karyawan yang baik dan tidak sedikit karyawan yang tidak baik.
Seorang karyawan yang membuatku jengkel tiap hari, beliau selalu mengolok olok aku dan selalu merendahkan performance ku disana. Paling sering beliau bilang, dasar gendut, buncit. Udah penampilan paling kotor sedunia, kok bisalah kamu diterima jadi karyawan di sini. Andai saja aku jdi HRD kamu tak pernah lolos seleksi untuk masuk kerja di PT ini. Entah dia bercanda, serius aku tak tahu. Yang jelas aku sangat sakit hati dibilang seperti itu. Padahal flashback, beliau sering memintaku untuk mengerjakan tugas matematikanya. Tapi tak apalah, toh aku tidak rugi dibilang seperti itu. Aku memang sakit hati, namun aku tak bisa berbuat apa apa. Selain karna beliau adalah senior saya, dan beliau adalah orang tua yang bekerja disini kemudian posisinya sama. Mungkin itu yang membuatnya sirik. Pusing mikirin ulah nya tiap hari, ada saja perkataan yang kotor dan memojokkan ku supaya aku rendah dimata karyawan lain. Aku pernah mendoakanya digereja, supaya hal hal seperti itu tak bisa membuatku terpancing dan semoga Tuhan membalasnya n menyadarkannya.
Hari semakin sore, waktunya pulang kerumah. Diperjalanan aku mendapat sms dari kakak ku supaya aku langsung datang kerumahnya karena ada hal yang sangat serius yang perlu ditanggapi dan didiskusikan secara keluarga. Aku pun berangkat kesana, aku dikejutkan dengan ucapan kakak ku kala aku sudah sampai disana,.
“dek, mama sakit keras. Dan salah satu dari kita harus pulang” kata kakak ku yang sudah berurai air mata.
“kok, harus? Emang mama gimana keadaanya”?
“sudah emergency, dan besok akan dilarikan kerumah sakit”
“kenapa mesti besok, sekarang kan bisa”?
“sekarang tidak mungkin lah, karena puskesmanya jauh, trus uang juga tidak ada.makanya kami minjam sama koperasi dan rencanya besok abang mu lah yang harus pulang. Karena dia anak pertama laki-laki”. Memang di adat batak, saat orang tua sakit keras. Ada acara anak pertama laki-laki memberikan “aek sitio tio” yang konon katanya bisa menyembuhkan penyakit yang emergency sekalian didoakan oleh pastor dan tentunya supaya cepat pulih.
“yah sudah, aku juga tidak bisa pulang karna aku juga baru kerja dan sedang ujian akhir”.
Rencana nya tanggal 6 abang ku pulang ke kampung. Untuk memberikan “aek sitio tio” (red: air putih yang sudah didoakan).
Aku berpikir keras akan keadaan mama ku yang semakin hari semakin tipis perjuangan hidup nya. Tuhan, bagaimana ini? Aku takut jika hal itu terjadi. Untuk sementara aku mengundurkan course bahasa inggris dulu supaya meminimalkan pengeluaran untuk bisa meringankan beban ayah ku membayar biaya puskesmas. Apapun itu, aku siap berkorban,asalkan aku bisa melihat mama sehat. Karena beliau adalah harta yang tak ternilai dalam hidupku.
Tepat 4 agustus malam jam 21.30 wib, hp ku berdering. Tiba tiba saja jantung ku berdetak keras. Satu hal yang ku doakan semoga tidak berita itu. Perasaan ku semakin panas, kala melihat ID pemanggil adalah ayah ku dari kampung. Aku enggan mengangkat telepon nya karena perasaan ku kalang kabut. Namun berkali kali hp ku berdering, ku beranikan mengangkatnya.
“halo bapa, ada apa? Kok malam malam telpon, tak seperti biasanya” kata ku penasaran…
“ nak…”! suara itu terhenti diiringi isak tangis yang amat perih
“ia pa, ada pa”? aku semakin penasaran
“ibu mu nak.. ibumu sudah meninggaaaaal” kata ayah ku sedikit gugup. Mungkin karena isak tangis nya yang amat perih ditambah suara orang orang yang disana
“aku langsung lemas, handphone ku terjatuh dan aku menangis sekuat tenagaku
Mama.,… mama… kenapa harus sekarang? Kenapa ma..
Suara tangis ku terdengar tetangga, dan menanyakan apa yang terjadi.
“ada apa Lisbon, kok kamu berteriak seperti itu”?
Mama ku… ma..ma ku. Mamaku meninggalll
Sekujur tubuhku terasa dingin, airmataku berjatuhan. Aku tak kuasa menangahan air mata. Kemudian aku kembali membuka draft sms mama yang selalu kusimpan. Kubaca bait per bait yang membuat aku semakin pusing dan akhirnya aku pingsan dikamar… Enam jam berlalu, aku sadar aku kembali menangis dan selalu menangis. Belum lagi keaadaan seperti ini. Uang tidak ada sama sekali. Apa yang harus ku lakukan Tuhan? Aku tidak mempunyai apa apa untuk pulang. Belum lagi, kakak ku yang nomor 2 sedang hamil tua dan kakak ku yang pertama baru melahirkan yang suaminya baru saja habis kontrak. Pikiranku buntu, aku lemas dan bingun apa yang harus kulakukan. Kemudian aku berniat meminjam pada kerabat, namun tidak ada yang berbelas kasihj. Aku semakin putus asa kala sudah 1 malam aku tidak kunjung mendapatkan ongkos pulang. Aku bingung, sedih , dan ingin bunuh diri. namun aku berdoa pada Tuhan, supaya aku di izikan untuk pulang. Doa ku terkabul saat teman kuliah menawarkan pinjaman sama ku yang notabene uang nya masih ada kupinjam sebelumnya untuk bayar kuliah ku. Puji Tuhan pikir ku. Ku putuskan malam itu untuk diskusi sama kakak dan abang ku kapan kami akan berangkat ke kampung. Dalam hatiku selalu saja menyalahkan Tuhan. Karena Tuhan sudah tau keinginan mama ku untuk bisa melihat aku segera wisuda namun kesempatan itu ditolak sama yang berkuasa. Aku tidak mengerti rencana yang diberikan Tuhan ini pada kami. Sebelumnya abang ku sudah berjanji untuk menjenguk mama ku tanggal 6 agustus namun lagi lagi Tuhan merencanakan hal yang lain. Hidup ku serasa hancur, apa yang ku pikirkan sebelumnya telah terjadi, aku menyesal dan merasa bersalah karena belum bisa mengujudkan apa yang menjadi harapan terbesar bundaku.
Hampir dua 2 malam perjalanan, aku dan keluarga samapai di kampung. Aku bingun apa yang harus aku katakana. Tubuhku terkulai lemas melihat mama ku tidak bernyawa lagi. Mulutku serasa terkunci, bagaimana ini Tuhan.. aku tak sanggggguppp melihat jasad nya. Aku masih ingin bersamanya. Masih banyak yang aku harus balas kebaikanya. Aku menciumi jasad mama ku, aku menangis sekeras keras nya. Aku tak peduli lagi dengan ratusan pasang mata yang melihat tingkah ku yang agak setengah gila. Aku benar benar hilang kendali. Ibu ku yang kutingkalkan selama 4 tahun ini, kini ku temui telah tak bernyawa. Kuperhatikan tanganya, wajahnya, mulut nya. Aku ingin sekali mendengar sepatah kata dari mamaku dan menyambut aku datang di rumah ku ini. Namun, semua ini hanyalah hayalan yang takkan pernah bisa terulang.
“Sudahlah nak, kalian yang sabar”. Kata papa ku yang suaranya agak serak. Mungkin karena 2 malam ini tidak tidur dan selalu menagis.
“Kenapa pa, mama secepat itu ? kami kan belum siap pa”…
“Siapapun tidak akan siap nak, dengan kematian. Itu sudah menjadi rahasia Tuhan. Kita hanya boleh bersabar tapi ada bapa di surga yang lebih tau apa yang terbaik bagi kita semua. Inilah pesan ku sama semua anak dan cucu ku, bersabar dan berdoa agar mama bisa tenang disisi Tuhan”. Aku terdiam sejenak setelah hamper berhari- hari aku menangisi jasad mama ku. Kuraih kembali tangan mama ku, lalu aku menitikkan air mata lagi. Aku memang hilang kendali saat beliau telah hilang dari pandangan ku.
Proses adat pemakaman yang sangat singkat bagi ku. Dan tibalah saatnya kami mengiringi kepergian mama kami tercinta untuk selama lamanya. Aku tidak bisa atas musibah yang besar ini. Namun, aku mengingat nasehat ayah ku bahwa semuanya akan mengalami hal seperti ini. Tidak ada yang abadi dan semua akan kembali ketanah. Hampir semalam proses pemakaman bunda ku sudah selesai, aku kembali menangisi nya. Aku memikirkan bagaimana hari pertama mama ku disana. Pasti akan gelap, dingin, sepi, dan juga sempit. Apalagi setelah pemakaman mamaku, hujan lebat turun. Pastilah mamaku kedinginan disana, apalah yang bisa ku perbuat Tuhan? Aku hanya manusia biasa dan hanya doa yang ku panjatkan semoga mama ku Tuhan rangkul dan Tuhan sediakan tempat yang terindah di surga abadi sana.
“bang, ini ada catatan mama 1 hari sebelum sakit mama kambuh”. Kata adik ku membangunkan aku dalam lamunan ku.
“kok, tumben-tumbenan lah mama menulis catatan kecil ini dek”? kata ku penasaran. Memang selama hidupnya mama ku tak pernah membuat catatan apapun. Maklum, tidak pernah ada waktu untuk berpikir kesana. Mama ku selalu disibukkan dengan penyakit nya semasa hidupnya. Mirisa memang, namun itulah kenyataanya.
Aku membuka catatan kecil itu, cukup penasaran juga aku apa isi dari catatan peninggalan mama ku. Inilah yang pertama mama ku menuliskan catatanya.
“Bapa, Mengapa engkau memberikan waktu yang begitu terbatas bagi ku, aku masih ingin berada didunia ini menikmati kebahagiaan bersama anak / cucu yang engkau titipkan bagiku. Dan mengapa Engkau membiarkan kau tahu bahwa hari terakhirku akan segera tiba? Mungkih kah waktu ku terbatas untuk mendalamai hatiMU bapa.. tapi ku piker, Engkau memanggilku karena Engkau begitu menyayangiku? Tuhan, jangan panggil aku secepat ini aku Mohon. Aku masih ingin bersama dengan mereka”.
Aku menangis membaca nya, aku tidak menyangka begitu sakitnya mama ku dibumi ini, hingga waktunya sangat terbatas bersama kami. Padahal, kami masih butuh mama dan adik adik ku juga masih sekolah. Ini adalah catatan pertama dan terakhir ibu ku sejak hidup nya dan yang akhirnya membawanya kembali kepada Tuhan Allah..
“Hapus lah airmata mu nak, biarlah itu menjadi rahasia Tuhan atas musibah ini”. Suara ayah ku mengagetkan ku.
Aku berlalu begitu saja tampa mengindahkan nasehat bapak ku. Ku perhatikan sejenak adik adik ku, yang masih ada 2 orang lagi yang sekolah. Bagaimana ini? Semoga sajalah Tuhan benar benar merencanakan hal yang terbaik dibalik duka ini,
Hamper dua minggu kemuadian kami satu persatu pamit pulang ke batam, sebenranya aku tidak tega meninggalkan ayah ku berdua dengan adik ku yang laki laki yang masih kelas 3 SMP. Siapa yang akan menemani mereka? Siapa yang menasehati adik ku dan siapa teman ayahku saat pikiran ayah ku stress nantinya? Namun, apapun alasanya aku tidak bias tinggal begitu lama di kampung ini, karena aku masih punya tugas yang sangat penting buat masa depan ku.
“ayah, aku berangkat yah”. Aku memeluknya dengan begitu erat, suara isak tangis ayahku kembali terdengar.
“udalah yah, ayah harus kuat. Ada tuhan yang menguatkan kita. Ayah harus bisa mandiri dan sekarang pekerjaan ayah bertambah. Semoga ayah bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagi kami anak anak mu”.
“teruslah berjuang yah nak, ayah yakin kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Bermodalkan dari duka ini, mudah mudahan kami semakin giat, dan rajin belajar supaya ibu mu senang kala melihat mu nannti dari surge abadi sana”.
“ia ayah, doa dan nasehat ayah akan aku jalankan”.
Aku pun bergegas pulang, ku lihat dari dalam mobil ayah ku masih melihat ku dari kejauhan melambaikan tangan sambil menangis. Aku tak kuasa menahan sakitnya ini semua. Semua terlalu cepat bagiku. Hingga tiba di batam aku masih mengingat ingat semua duka yang terlalu instan dalam hidup ku. Kuatkan aku Tuhan…
Sejak saat ini aku jadi pendiam tak banyak bicara, hidup ku semakin terpontang panting.. aku tak tau harus memulai dari mana. Hidupku semakin buruk. Tak tentu arah, dan apa yang ku kerjakan semua seakan sia-sia. Aku berpikir untuk apa aku mengejar semua impian ku jika mama ku tak melihat aku kelak sukses? Semua terasa tak berguna. Namun, aku ternyata tidak sendirian ada banyak orang yang kehilangan seperti aku tapi mereka kuat dan semakin termotivasi. Aku malu pada diri ku sendiri yang terlalu sulit untuk ikhlas.
“bagaimana pun kamu harus kuat”. Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Yang ternyaata itu adalah bang jhon. Teman sekost ku
“ia bang Jhon, aku memang harus belajar untuk bisa ikhlas atas semuanya Namun tak ada gunanya juga aku seperti ini trus.. aku mesti bangkit.. aku masih punya masa depan dan tanggung jawab. Bagaimana pun, kepergian Mama ku adalah takdir Tuhan yang terbaik. Tuhan pasti punya rencanya yang masih lebih indah dibalik ini semua untuk ku.. Tuhan semoga Engkau tempatkan beliau di tempat yang paling mulia Tuhan.. aku yakin suatu saat aku akan bertemu dengan mama di surga yang indah itu nantinya. Aku menjalani aktivitas ku seperti biasanya. Aku berharap dan sukacita dibalik duka yang ku lalui. Hidup ku yang penuh drama ini aku harus siap menjadi pemeran yang tak gampang dipatahkan oleh masalah seberat apapun. Aku benar-benar harus siapa dengan apa pun yang terjadi. Aku berjuang untuk ayah ku, adik ku dan masa depan ku. Kelak aku akan hidup sukses yang bisa membuat ayahku tersenyum sambil berkata “ ayah bangga padamu nak…”!
I Want To be
Rabu, 29 April 2015
CATATAN TERAKHIR DARI IBU KU
Aku duduk termenung di emperan rumah. Sore itu udara memang agak dingin ku putuskan untuk memakai jaket dan duduk di emperan rumah. Hari yang menyesakkan pikirku. Baru saja aku kecelakaan di pinggiran jalan batu aji ini. Entah apa yang ku pikirkan, tapi memang kondisiku lagi drop. Berulang kisah yang pernah kutuliskan dalam diary ku, aku selalu terbayang akan bundaku yang semakin hari kesehatanyan semakin drop. Aku kwatir aku belum siap untuk segalanya yang mungkin ada hal yang di luar dugaan. Aku pasrah saja pada Tuhan, toh semuanya telah digariskan pada kami semua. aku memang anak yang gampang sekali sedih, banyak kisah yang dalam kehidupan ku yang terlalu sulit bagiku, untuk apa Tuhan memberikan cobaan yang seberat ini. Entah bagaimana cara ku menyembunyikan kesedihan ini supaya tidak ada orang yang tau..
“Lho, kok kamu sedih trus sih bon..”! santa menegur ku tiba tiba kala itu aku duduk di perpustakaaan dengan buku yang ku ambil tapi tidak kubaca.
“Ia ni san,, tau sendiri lah hidup ini penuh drama”.
“Ia juga sih, tapi gk seharus nya masalah itu dibawa bawa ke kampus. Belajarlah profesional Lisbon, toh ada Tuhan tempat mu curhat. Tuhan itu adalah pendengar yang setia”.
“Ya memang, tapi kalau doa kita belum dikabulkan oleh Tuhan bagaimana coba? Kan gak mungkin kita berharap trus…”! Kata ku meyakinkan
“Kan ada saat nya itu lisbonnn..”
“Udah ah, bahas lain aja”. Katanya sambil berlalu
Aku melanjutkan penghayalanku, tak terasa jam nya sudah beranjak sore. Ah, waktunya pergi kerja ini . rasa malas ini kadang timbul ketika tiba waktunya kerja. Andai saja aku bisa menemukan tempat kerja yang cukup nyaman, pasti kegelisahaan ini berkurang sedikit. Namun begitu, aku tetap saja berangkat kerja.
“Kamu kok jam segini baru datang, lihat ni banyak orderan malam ini. Kamu harus selesaikan ini secepatnya solanya aku mau running mala mini n besok pagi udah harus di kirim”. kata leader production yang sudah dari tadi menunggu aku untuk segera menyiapkan barang yang dia request
Aku bergegas menyediakan, lagi lagi aku kena masalah.Kaki ku tersandung pisau forklift yang membuat ku harus istirahat beberapa jam. Padahal target belum juga selesai. Oh Tuhan, bagaimana ini. Aku harus menyelesaikan pekerjaan ku. Ini urgently request. Tolong pulihkan aku Tuhan, pintaku . Namun lagi lagi ejekan dri karyawan lain berdatangan. Ada yang bilang over style lah, ceroboh, sok pintar dan bahkan sok jagoan. Aneh, apa hubungan nya sok jagoan dengan kasus ini yah, pikirku dalam hati.
Pagi hari pun tiba, aku sudah merasakan agak sehat dan bisa kembali ke kampus nantinya. Pagi ini akan ada ujian akhir semester 6 TA 2013/2014. Aku harus mempersiapkan mental dan pikiran agar bisa lulus semuanya dan bisa mengambil mata kuliah skripsi semester depan. Wisuda tepat waktu adalah dambaan bagi ku dan tentunya bagi ayah dan bunda ku.
Aku tiba-tiba teringat akan draft sms yang kemarin dikirmkan oleh ibu ku beberapa hari yang lalu.
“nak, disampin kamu bekerja, kamu harus perhatikan juga sekolah mu. Semuanya harus seimbang dan bisa kamu cover dua duanya. Ingat ya nak, mama sudah sakit sakitan. Dan satu hal yang ingin kamu tahu, sakit ibu sudah 15 tahun, ibu berpikir akan bertahan hidup supaya bisa melihat kamu wisuda nantinya. Mama pasti bangga sekali jika mama dan papa bisa mendampingi kamu nantinya. Terus lah berjuang yah nak, mama mendoakn kamu supaya Tuhan senantiasa menlindungi dan memberkati tiap apa yang kamu kerjakan. Dari mama mu”
Aku berurai air mata kala membaca ulang draf sms mamaku. Oleh karena itu aku kuat, aku bekerja keras dan berusaha memberikan apa yang mereka inginkan termasuk di sisa umurnya ingin melihat aku wisuda kelak.
“Kamu kenapa lagi Lisbon, kok kamu nangis lagi di sini. Kamu aneh hamper tiap hari saja kulihat kamu termenung dan selalu sedih, padahal kamu kerja bukan seperti kami yang pengangguran ini”. Kata suara teman kost ku yang dari tadi memperhatikan aku menangis.
“Akhir, akhir ini memang sering aku sedih. Karena mamaku sakit keras dan keinginan terbesarnya selama hidup ini melihat ku wisuda segera. Padahal masih satu tahun lagi, aku kawatir ibuku takkan kuat lagi” , kata ku sambil mengghempaskan tubuh ku di kursi.
“Iya, wajar sajalah lah seperti itu. Karena dari 8 orang kalian sekeluarga Cuma kamu masih yang bisa kuliah, wajarkan ibuku bilang seperti itu”?
“Iya tapi”..?
“Tapi apa? Harus nya kamu bangga”…
“Kok bangga”?
“Ia yalah, kamu masih bisa kuliah walaupun kadang macet”.
“Semua orang berhak lah kuliah, bukan Cuma ku kan”. Tegas ku
“Iya, tapi hanya kamu yang beruntung. Makanya kamu harus bersyukur dan kelak semua harapan orang tua mu bisa kamu wujudkan. kan, gampang tinggal jalani aja”..
“Ah kamu bisa aja, karena bukan kamu saja yang diposisiku. Aku dilema bang jhon”
“Kok dilema”?
“Pokoknya posisiku sudah dilevel paling atas menurut tingkat kerumitan masalahnya.Yang jelas Cuma aku yang tahu masalah ku. Kamu doakan aku saja supaya bisa mengujudkan impian mama ku”. Kataku sambil berlalu
Hari pertama di bulan agustus 2015, aku berdoa semoga tidak ada masalah apapun termasuk malasah financial yang selama ini jadi malah yang paling utama. Dan semoga mamaku segera sembuh. Itulah sebaris harapan yang kutuliskan di twitter ku.. banyak juga yang nge-retweet status twitterku kali ini. Seperti biasa aku menjalani hari hariku yang kebanyakan di tempat kerja. Ada karyawan yang baik dan tidak sedikit karyawan yang tidak baik.
Seorang karyawan yang membuatku jengkel tiap hari, beliau selalu mengolok olok aku dan selalu merendahkan performance ku disana. Paling sering beliau bilang, dasar gendut, buncit. Udah penampilan paling kotor sedunia, kok bisalah kamu diterima jadi karyawan di sini. Andai saja aku jdi HRD kamu tak pernah lolos seleksi untuk masuk kerja di PT ini. Entah dia bercanda, serius aku tak tahu. Yang jelas aku sangat sakit hati dibilang seperti itu. Padahal flashback, beliau sering memintaku untuk mengerjakan tugas matematikanya. Tapi tak apalah, toh aku tidak rugi dibilang seperti itu. Aku memang sakit hati, namun aku tak bisa berbuat apa apa. Selain karna beliau adalah senior saya, dan beliau adalah orang tua yang bekerja disini kemudian posisinya sama. Mungkin itu yang membuatnya sirik. Pusing mikirin ulah nya tiap hari, ada saja perkataan yang kotor dan memojokkan ku supaya aku rendah dimata karyawan lain. Aku pernah mendoakanya digereja, supaya hal hal seperti itu tak bisa membuatku terpancing dan semoga Tuhan membalasnya n menyadarkannya.
Hari semakin sore, waktunya pulang kerumah. Diperjalanan aku mendapat sms dari kakak ku supaya aku langsung datang kerumahnya karena ada hal yang sangat serius yang perlu ditanggapi dan didiskusikan secara keluarga. Aku pun berangkat kesana, aku dikejutkan dengan ucapan kakak ku kala aku sudah sampai disana,.
“dek, mama sakit keras. Dan salah satu dari kita harus pulang” kata kakak ku yang sudah berurai air mata.
“kok, harus? Emang mama gimana keadaanya”?
“sudah emergency, dan besok akan dilarikan kerumah sakit”
“kenapa mesti besok, sekarang kan bisa”?
“sekarang tidak mungkin lah, karena puskesmanya jauh, trus uang juga tidak ada.makanya kami minjam sama koperasi dan rencanya besok abang mu lah yang harus pulang. Karena dia anak pertama laki-laki”. Memang di adat batak, saat orang tua sakit keras. Ada acara anak pertama laki-laki memberikan “aek sitio tio” yang konon katanya bisa menyembuhkan penyakit yang emergency sekalian didoakan oleh pastor dan tentunya supaya cepat pulih.
“yah sudah, aku juga tidak bisa pulang karna aku juga baru kerja dan sedang ujian akhir”.
Rencana nya tanggal 6 abang ku pulang ke kampung. Untuk memberikan “aek sitio tio” (red: air putih yang sudah didoakan).
Aku berpikir keras akan keadaan mama ku yang semakin hari semakin tipis perjuangan hidup nya. Tuhan, bagaimana ini? Aku takut jika hal itu terjadi. Untuk sementara aku mengundurkan course bahasa inggris dulu supaya meminimalkan pengeluaran untuk bisa meringankan beban ayah ku membayar biaya puskesmas. Apapun itu, aku siap berkorban,asalkan aku bisa melihat mama sehat. Karena beliau adalah harta yang tak ternilai dalam hidupku.
Tepat 4 agustus malam jam 21.30 wib, hp ku berdering. Tiba tiba saja jantung ku berdetak keras. Satu hal yang ku doakan semoga tidak berita itu. Perasaan ku semakin panas, kala melihat ID pemanggil adalah ayah ku dari kampung. Aku enggan mengangkat telepon nya karena perasaan ku kalang kabut. Namun berkali kali hp ku berdering, ku beranikan mengangkatnya.
“halo bapa, ada apa? Kok malam malam telpon, tak seperti biasanya” kata ku penasaran…
“ nak…”! suara itu terhenti diiringi isak tangis yang amat perih
“ia pa, ada pa”? aku semakin penasaran
“ibu mu nak.. ibumu sudah meninggaaaaal” kata ayah ku sedikit gugup. Mungkin karena isak tangis nya yang amat perih ditambah suara orang orang yang disana
“aku langsung lemas, handphone ku terjatuh dan aku menangis sekuat tenagaku
Mama.,… mama… kenapa harus sekarang? Kenapa ma..
Suara tangis ku terdengar tetangga, dan menanyakan apa yang terjadi.
“ada apa Lisbon, kok kamu berteriak seperti itu”?
Mama ku… ma..ma ku. Mamaku meninggalll
Sekujur tubuhku terasa dingin, airmataku berjatuhan. Aku tak kuasa menangahan air mata. Kemudian aku kembali membuka draft sms mama yang selalu kusimpan. Kubaca bait per bait yang membuat aku semakin pusing dan akhirnya aku pingsan dikamar… Enam jam berlalu, aku sadar aku kembali menangis dan selalu menangis. Belum lagi keaadaan seperti ini. Uang tidak ada sama sekali. Apa yang harus ku lakukan Tuhan? Aku tidak mempunyai apa apa untuk pulang. Belum lagi, kakak ku yang nomor 2 sedang hamil tua dan kakak ku yang pertama baru melahirkan yang suaminya baru saja habis kontrak. Pikiranku buntu, aku lemas dan bingun apa yang harus kulakukan. Kemudian aku berniat meminjam pada kerabat, namun tidak ada yang berbelas kasihj. Aku semakin putus asa kala sudah 1 malam aku tidak kunjung mendapatkan ongkos pulang. Aku bingung, sedih , dan ingin bunuh diri. namun aku berdoa pada Tuhan, supaya aku di izikan untuk pulang. Doa ku terkabul saat teman kuliah menawarkan pinjaman sama ku yang notabene uang nya masih ada kupinjam sebelumnya untuk bayar kuliah ku. Puji Tuhan pikir ku. Ku putuskan malam itu untuk diskusi sama kakak dan abang ku kapan kami akan berangkat ke kampung. Dalam hatiku selalu saja menyalahkan Tuhan. Karena Tuhan sudah tau keinginan mama ku untuk bisa melihat aku segera wisuda namun kesempatan itu ditolak sama yang berkuasa. Aku tidak mengerti rencana yang diberikan Tuhan ini pada kami. Sebelumnya abang ku sudah berjanji untuk menjenguk mama ku tanggal 6 agustus namun lagi lagi Tuhan merencanakan hal yang lain. Hidup ku serasa hancur, apa yang ku pikirkan sebelumnya telah terjadi, aku menyesal dan merasa bersalah karena belum bisa mengujudkan apa yang menjadi harapan terbesar bundaku.
Hampir dua 2 malam perjalanan, aku dan keluarga samapai di kampung. Aku bingun apa yang harus aku katakana. Tubuhku terkulai lemas melihat mama ku tidak bernyawa lagi. Mulutku serasa terkunci, bagaimana ini Tuhan.. aku tak sanggggguppp melihat jasad nya. Aku masih ingin bersamanya. Masih banyak yang aku harus balas kebaikanya. Aku menciumi jasad mama ku, aku menangis sekeras keras nya. Aku tak peduli lagi dengan ratusan pasang mata yang melihat tingkah ku yang agak setengah gila. Aku benar benar hilang kendali. Ibu ku yang kutingkalkan selama 4 tahun ini, kini ku temui telah tak bernyawa. Kuperhatikan tanganya, wajahnya, mulut nya. Aku ingin sekali mendengar sepatah kata dari mamaku dan menyambut aku datang di rumah ku ini. Namun, semua ini hanyalah hayalan yang takkan pernah bisa terulang.
“Sudahlah nak, kalian yang sabar”. Kata papa ku yang suaranya agak serak. Mungkin karena 2 malam ini tidak tidur dan selalu menagis.
“Kenapa pa, mama secepat itu ? kami kan belum siap pa”…
“Siapapun tidak akan siap nak, dengan kematian. Itu sudah menjadi rahasia Tuhan. Kita hanya boleh bersabar tapi ada bapa di surga yang lebih tau apa yang terbaik bagi kita semua. Inilah pesan ku sama semua anak dan cucu ku, bersabar dan berdoa agar mama bisa tenang disisi Tuhan”. Aku terdiam sejenak setelah hamper berhari- hari aku menangisi jasad mama ku. Kuraih kembali tangan mama ku, lalu aku menitikkan air mata lagi. Aku memang hilang kendali saat beliau telah hilang dari pandangan ku.
Proses adat pemakaman yang sangat singkat bagi ku. Dan tibalah saatnya kami mengiringi kepergian mama kami tercinta untuk selama lamanya. Aku tidak bisa atas musibah yang besar ini. Namun, aku mengingat nasehat ayah ku bahwa semuanya akan mengalami hal seperti ini. Tidak ada yang abadi dan semua akan kembali ketanah. Hampir semalam proses pemakaman bunda ku sudah selesai, aku kembali menangisi nya. Aku memikirkan bagaimana hari pertama mama ku disana. Pasti akan gelap, dingin, sepi, dan juga sempit. Apalagi setelah pemakaman mamaku, hujan lebat turun. Pastilah mamaku kedinginan disana, apalah yang bisa ku perbuat Tuhan? Aku hanya manusia biasa dan hanya doa yang ku panjatkan semoga mama ku Tuhan rangkul dan Tuhan sediakan tempat yang terindah di surga abadi sana.
“bang, ini ada catatan mama 1 hari sebelum sakit mama kambuh”. Kata adik ku membangunkan aku dalam lamunan ku.
“kok, tumben-tumbenan lah mama menulis catatan kecil ini dek”? kata ku penasaran. Memang selama hidupnya mama ku tak pernah membuat catatan apapun. Maklum, tidak pernah ada waktu untuk berpikir kesana. Mama ku selalu disibukkan dengan penyakit nya semasa hidupnya. Mirisa memang, namun itulah kenyataanya.
Aku membuka catatan kecil itu, cukup penasaran juga aku apa isi dari catatan peninggalan mama ku. Inilah yang pertama mama ku menuliskan catatanya.
“Bapa, Mengapa engkau memberikan waktu yang begitu terbatas bagi ku, aku masih ingin berada didunia ini menikmati kebahagiaan bersama anak / cucu yang engkau titipkan bagiku. Dan mengapa Engkau membiarkan kau tahu bahwa hari terakhirku akan segera tiba? Mungkih kah waktu ku terbatas untuk mendalamai hatiMU bapa.. tapi ku piker, Engkau memanggilku karena Engkau begitu menyayangiku? Tuhan, jangan panggil aku secepat ini aku Mohon. Aku masih ingin bersama dengan mereka”.
Aku menangis membaca nya, aku tidak menyangka begitu sakitnya mama ku dibumi ini, hingga waktunya sangat terbatas bersama kami. Padahal, kami masih butuh mama dan adik adik ku juga masih sekolah. Ini adalah catatan pertama dan terakhir ibu ku sejak hidup nya dan yang akhirnya membawanya kembali kepada Tuhan Allah..
“Hapus lah airmata mu nak, biarlah itu menjadi rahasia Tuhan atas musibah ini”. Suara ayah ku mengagetkan ku.
Aku berlalu begitu saja tampa mengindahkan nasehat bapak ku. Ku perhatikan sejenak adik adik ku, yang masih ada 2 orang lagi yang sekolah. Bagaimana ini? Semoga sajalah Tuhan benar benar merencanakan hal yang terbaik dibalik duka ini,
Hamper dua minggu kemuadian kami satu persatu pamit pulang ke batam, sebenranya aku tidak tega meninggalkan ayah ku berdua dengan adik ku yang laki laki yang masih kelas 3 SMP. Siapa yang akan menemani mereka? Siapa yang menasehati adik ku dan siapa teman ayahku saat pikiran ayah ku stress nantinya? Namun, apapun alasanya aku tidak bias tinggal begitu lama di kampung ini, karena aku masih punya tugas yang sangat penting buat masa depan ku.
“ayah, aku berangkat yah”. Aku memeluknya dengan begitu erat, suara isak tangis ayahku kembali terdengar.
“udalah yah, ayah harus kuat. Ada tuhan yang menguatkan kita. Ayah harus bisa mandiri dan sekarang pekerjaan ayah bertambah. Semoga ayah bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagi kami anak anak mu”.
“teruslah berjuang yah nak, ayah yakin kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Bermodalkan dari duka ini, mudah mudahan kami semakin giat, dan rajin belajar supaya ibu mu senang kala melihat mu nannti dari surge abadi sana”.
“ia ayah, doa dan nasehat ayah akan aku jalankan”.
Aku pun bergegas pulang, ku lihat dari dalam mobil ayah ku masih melihat ku dari kejauhan melambaikan tangan sambil menangis. Aku tak kuasa menahan sakitnya ini semua. Semua terlalu cepat bagiku. Hingga tiba di batam aku masih mengingat ingat semua duka yang terlalu instan dalam hidup ku. Kuatkan aku Tuhan…
Sejak saat ini aku jadi pendiam tak banyak bicara, hidup ku semakin terpontang panting.. aku tak tau harus memulai dari mana. Hidupku semakin buruk. Tak tentu arah, dan apa yang ku kerjakan semua seakan sia-sia. Aku berpikir untuk apa aku mengejar semua impian ku jika mama ku tak melihat aku kelak sukses? Semua terasa tak berguna. Namun, aku ternyata tidak sendirian ada banyak orang yang kehilangan seperti aku tapi mereka kuat dan semakin termotivasi. Aku malu pada diri ku sendiri yang terlalu sulit untuk ikhlas.
“bagaimana pun kamu harus kuat”. Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Yang ternyaata itu adalah bang jhon. Teman sekost ku
“ia bang Jhon, aku memang harus belajar untuk bisa ikhlas atas semuanya Namun tak ada gunanya juga aku seperti ini trus.. aku mesti bangkit.. aku masih punya masa depan dan tanggung jawab. Bagaimana pun, kepergian Mama ku adalah takdir Tuhan yang terbaik. Tuhan pasti punya rencanya yang masih lebih indah dibalik ini semua untuk ku.. Tuhan semoga Engkau tempatkan beliau di tempat yang paling mulia Tuhan.. aku yakin suatu saat aku akan bertemu dengan mama di surga yang indah itu nantinya. Aku menjalani aktivitas ku seperti biasanya. Aku berharap dan sukacita dibalik duka yang ku lalui. Hidup ku yang penuh drama ini aku harus siap menjadi pemeran yang tak gampang dipatahkan oleh masalah seberat apapun. Aku benar-benar harus siapa dengan apa pun yang terjadi. Aku berjuang untuk ayah ku, adik ku dan masa depan ku. Kelak aku akan hidup sukses yang bisa membuat ayahku tersenyum sambil berkata “ ayah bangga padamu nak…”!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar